Cari Blog Ini

Selasa, 05 April 2016

Lalu?

Kegelisahan kita mungkin tidak pernah sama. Atau pikiran kita juga. Apalagi langkah kaki kita. Orang-orang justru bahkan tak pernah melihat kita akan melakukan hal itu. Tapi, kau tahu? Saat doa begitu melangit, walau tak sama, kegelisahan itu bisa terobati. Walau tak sama, pikiran juga hanya akan memiliki hal yang baik-baik.

Langkah kaki kita?

Tidakkah Sadar?


Kita selalu penasaran dengan apa yang orang-orang sedang rasakan. Sedang kita tidak penasaran dengan diri sendiri; apakah benar perasaan kita yang tumbuh itu sudah benar atau tidak.  

Cemas-cemas

Saat kita mencemaskan sesuatu, kita melewati beberapa hal. Melewati kebaikan-kebaikan yang ada namun tidak terpikirkan. Melewati berbagai macam kemungkinan-kemungkinan buruk tanpa bisa kita mengerti dan yakini sesuatu itu mungkin akan terjadi.
Saat kita mencemaskan sesuatu, bukan tak mungkin kita sedang kehilangan sesuatu yang lain. Yang bisa jadi membuat ketidakkemungkinan yang ada di kepala menjadi sesuatu yang mungkin. Tapi kita tidak menyadari kehilangan itu.

Selasa, 01 Maret 2016

Yang Jatuh, Yang Tumbuh


Maka kehidupan tidak jauh dari beberapa cabang tumbuhan. Akan selalu ditemui jalan yang panjang dan tujuan yang berujung. Akan ada yang jatuh. Ada yang juga terus tumbuh. Demikianlah.

Bukan Tentang Kepergian

                                        


Sebenarnya, ini bukan tentang kepergian. Bukan. Karena aku tahu semua berasal dari ketiadaan dan kembali akan tiada. Bukan juga tentang kehilangan. Sebab semua yang pernah kita bilang kita miliki, sejatinya memang bukan milik kita.

Hanya saja, kau pernah memintaku menunggu. Maka aku melakukannya. Kau juga pernah menyuruhku bersabar. Padahal tanpa kau meminta, aku juga akan melakukannya.

Tetapi yang membuatku ingin segera menuntaskan semua itu adalah bahwa berharap kepada manusia bukan keinginan Tuhan. Tuhan ingin aku berharap kepadaNya.

Ada kenyataan yang benar-benar harus kita terima bersama. Bukan hanya kau atau aku saja. Lalu dalam sekejap kenyataan ini membuat kita terpaksa melupakan segalanya. Tapi asal kau tahu, tidak ada yang benar-benar pergi. Apapun itu. Kenangan sepertinya telah dalam menacapkan dirinya di ingatan kita.

Tetapi, yang membuatku ingin menjauh adalah bahwa janji hanya akan terus berjalan tanpa arah jika kau jadikan itu sebagai penguat untuk tetap membiarkanku menunggu. Tidak. Asal kau tahu, rasanya seperti menunggu sinar bulan di terik matahari.

Pada air mata yang jatuh kali ini, kutitipi doa yang panjang dan harapan yang sering; semoga kau selalu baik-baik saja. Semoga segala urusanmu dimudahkan.
Dan biarkan ini menjadi air mata yang ke sekian dan terakhir yang tak pernah kau tatap.

Terakhir, saat ini aku sedang belajar untuk menjadi sebenar-benarnya penunggu. Saat ini aku sedang menjadi sebenar-benarnya pengharap.


Kau apa kabar? :)

Rabu, 13 Januari 2016

Menjadi Penjanji


Jangan menjadi orang yang bersedia menampung janji. Jangan jadi orang yang bersedia menjadi penjanji.

Ada masa dimana semua janji itu tidak bisa membawa dirinya kepada kepastian. Ada pula masa dimana orang yang menjanji tidak bisa lagi mengujar janji.

Akan ada. 


Selasa, 12 Januari 2016

Perihal Pertimbangan yang Bijak




Kalau kita melihat dengan jernih sekitar kita, lebih gampang kita akan temui pertimbangan-petimbangan yang bijak. Tentang bagaimana batu di jalanan misalnya yang tiba-tiba kita temui. Menyandung kaki. Menghilangkan raut jalanan yang mulus-mulus. Atau tentang bergugurnya dedaunan satu-satu, entah yang sudah hijau atau berwarna cokelat. Atau bisa juga awan yang jatuh pelan-pelan di atas kepala. Memutih, membiru, lalu yang menghitam.


Apa yang kau dapatkan?
Itu semua adalah bagaimana kita diajarkan tentang hidup. Apa dan bagaimana kita memahami perihal apa yang pergi. Ihwal di dunia ini tak ada yang abadi. Ihwal betapa semakin kita berharap, betapa ia pergi. Lalu betapa kita tak bisa menerima. Lalu menuntut keadaan dengan air mata yang tak habis. Disimpan dengan paksa menjadi kenangan. Sebaliknya, yang kita selalu pikirkan tidak tahu bahwa kita tengah didatangi pertarungan yang tersembuyi jauh-jauh. Dalam-dalam. 

Kemudian ini menjadi hal-hal yang tak ada habisnya. Menjadi obrolan yang paling banyak di kepala. Dan rentang waktu, tak pernah mau diajaki kompromi.

Kalau kita melihat dengan jernih sekitar kita, lebih gampang kita akan menemui pertimbangan-pertimbangan yang bijak. Lalu mengapa kita tidak belajar banyak?