Cari Blog Ini

Minggu, 22 Oktober 2017

Belajar pada Waktu

Setiap waktu, kita melihat daun-daun tumbuh. Kita menyaksikannya semakin hari semakin banyak. Kita bahkan menatapnya dengan takjub akan kuasa Tuhan. Setiap waktu, kita mengetahui banyak bayi yang lahir. Kita lalu menyaksikannya tumbuh menjadi seorang anak kecil yang menggemaskan. Lalu meremaja, lalu mendewasa. Lalu menua. Dari sana, kita bisa belajar bahwa betapa Tuhan menjadi begitu sangat baik sekali. Dijadikannya segala sesuatu menjadi paripurna. Menjadi sedemikian elok. Tetapi, mengapa ada dari kita yang bibirnya masih belum menyeringkan mengujar syukur yang banyak? πŸ“#inay

Masing Kita

  • Setiap kita miliki detak-detik yang bermakna. Detak yang mengantar ruh menuju pemiliknya, misalnya. Setiap kita memilki langkah-langkah yang berarti. Langkah yang bukan menuju kepada kekosongan, langkah menuju hijrah, misalnya. Setiap kita punyai jalan-jalan yang panjang, atau bahkan rendah. Jalan yang baik lagi manfaat. Jalan untuk menempuh ilmu, misalnya.

    Tetapi, setiap kita juga miliki detak-detik yang maksiat. Detak yang berasal dari hati kecil saat melihat sesuatu yang ingkar. Setiap kita memiliki langkah-langkah yang tiada arti. Langkah menuju kekosongan, menuju mudharat. Langkah menuju tempat maksiat, misalnya. Setiap kita punyai jalan-jalan yang panjang, yang juga rendah. Jalan yang mencederai kesucian agamaNya. Jalan untuk tidak memilih Rasulullah sebagai teladan terbaik, misalnya.

    Namun, tahukah? Dari setiap detik yang kita tempuh, dari setiap bentang jalan yang dilalui, Dia selalu ada untuk membisikkan dan mengalihkan perhatian kita dari segala lalai. Dan Dialah sebaik-baik pemelihara. Seindah-indah pemberi jalan hidayah. Selembut-lembutnya pemberi maaf.

    Lalu, maukah kita sama-sama menuju kebaikan karenaNya? :) πŸ“πŸ“Έ#inay
21/0ktober 2017

Seisi, Segala

Seisi bumi adalah ladang untuk menggerakkan amal. Menghadirkan keberkahan. Seisi langit dan bumi ialah seagung-agungnya ladang ilmu. Menundukkan pada ketaatan. Seisi dunia yaitu semulia-mulianya jalan. Berpasrah lahir batin padaNya. Di seisi bumi ini, di seisi langit, di seisi dunia ini, banyak sekali manusia yang bisa dijadikan kawan. Mereka bertebaran hampir di setiap titik. Menyebar, tersebar dari timur ke puncak barat, dari utara hingga ke ujung selatan. Maka sungguh, pada kalimat yang pernah diujar oleh Hasan Al-Bashri Rahimahullah, "Perbanyaklah kawan-kawan yang shalih. Sungguh mereka memiliki syafa'at di Hari Kiamat" mempunyai maknanya sendiri. 
Kehadiran banyak kawan tidak berarti menjadi penyebab surga akan menjadi begitu dekat. Namun, membanyakkan kawan yang shalih ialah penyebab syafa'at akan diperoleh di kehidupan selanjutnya kelak.

Maka sungguh, dalam diri Rasulullah, dalam kehidupan beliau, tiadalah yang mengelilinginya terkecuali kawan yang shalih. Bahkan ketika Allah telah menjanjikan Surga terbaik baginya. 
Maka sungguh, tidak akan merugi, tiada akan aniaya hidup kita saat dikelilingi oleh kawan yang shalih. Insyaallah.

#Inay

(Sy)ukur

Apa yang tak hendak kamu syukuri dengan sekian banyak nikmat yang Allah berikan? Apa yang tak hendak kamu balasi terima kasih atas segala kebaikan-kebaikan Allah? Dan apa yang tak hendak kamu syukuri atas setiap lembar-lembar berkah yang Allah titipkan padamu?

Bahkan biarbun benda mati, apa saja bertasbih kepadaNya. Bahkan biarpun benda mati, apa saja senantiasa ingat akan Dia. Lalu, sudahkah kita ingat padaNya sementara kita masih dihidupkan? 
#Muhasabah #inay #

Kepulangan

Siang tadi, saya mengunjungi sebuah kepergian. Kepergian yang selalu dekat. Bahkan menjadi hal paling dekat dengan manusia. Kepergian itu memiliki tangis yang pecah berulang. Memilki pelukan-pelukan dari sanak saudara dan handai taulan. Mempunyai harapan, mempunyai doa yang menerus. Yang diiringi dengan kalimat-kalimat Tuhan yang indah. Mengantar ruh menujuNya.

Hari ini saya mengunjungi bukti janji Tuhan. Bukti yang membilang bahwa setiap yang bernyawa dipastikan akan merasakan mati. Yang berarti menuju kepada kehidupan berikutnya. Kehidupan yang mengekalkan kita untuk terus hidup tanpa menunggu di waktu keberapakah kehidupan akan berakhir lagi. Hanya saja, akan kekal dimanakah kita, di kehidupan yang penuh permadani dengan sungai yang mengalir, atau pada kehidupan yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu? πŸ“ΈπŸ“#inay#Muhasabah #ingatmati

Oktober 2017

Selalu Ada

"Sebab bahkan, masih ada harapan di dalam diri seseorang yang tidak percaya pada harapan." πŸ“πŸ“Έ#inay

Selamanya

Perjalanan tidak pernah singkat. Ia bahkan tidak pernah tuntas. Ia adalah perpanjangan dari janji yang bermula dari saripati tanah. Ia adalah bukti bahwa Tuhan menjadikan dunia dan kehidupan selanjutnya saling terikat. Selalu. Selamanya. πŸ“πŸ“Έ#inay